NEPAL

Nepal (Part 2) – Swayambunath, Bhaktapur dan Boudhanath

Nepal (Part 2) – Swayambunath, Bhaktapur dan Boudhanath

Berikut adalah perjalanan hari kedua saya di Kathmandu. Setelah menentukan destinasi trekking ke Poon Hill, kami menggunakan satu hari sebelumnya untuk keliling Kathmandu. Mulai dari Syawambunath, Bhaktapur dan Boudhanath menggunakan taksi. Harga taksi untuk tur satu hari $50. Jadi supir taxi akan menjemput, menunggu dan memulangkan kembali ke hotel. Cerita sebelumnya tetang Nepal Day 1 klik di sini 

Swayambunath

Tujuan pertama, Swayambunath atau Monkey Temple. Swayambunath lokasinya berada di atas bukit dan hanya sekitar 10 menit dari Thamel. Suasana spiritual begitu terasa ketika memasuki area ini. Saya melihat banyak penduduk lokal berdoa mulai dari pintu masuk, pedagang lilin minyak yang dipakai sebagai persembahan doa kepada Tuhan.

penduduk lokal yang sedang berdoa

Kebetulan kami datang bertepatan dengan hari keagamaan di Nepal jadi kami tidak membayar tiket masuk. Sepertinya mereka menggratiskan tiket masuk di hari itu karena sebagian besar penduduk melakukan persembahyangan. Jadi kawasan ini ramai banget di hari itu. Harga tiketnya sendiri adalah 200 Rs.

Menuju puncak Swayambunath harus melewati sekitar 365 anak tangga dan sedikit curam. Lumayan pemanasan sebelum naik gunung keesokan harinya, pikir saya. Haha. Saya juga menjumpai seorang Sadhu atau orang-orang suci di Nepal.

Sadhu

Perasaaan campur aduk antara deg-degan, takut, sama seneng karena bisa dapetin fotonya. Haha. Kata orang-orang kalau ke Nepal harus foto dengan sadhu. Gimana mau foto, perasaan sudah campur aduk duluan padahal ya nggak ada masalah sih. Huhu. Intinya di antara kami bertiga tidak ada yang berani foto. Haha.

sadhu

Kurang lebih 10 menit saya berdiri di depan dia memandangi dan memerhatikan apa yang dilakukan. Banyak penduduk lokal yang minta didoakan, ada pula yang memberikan uang mungkin sebagai ucapan terima kasih. Sang Sadhu juga memanjatkan pujian. Aaahhh… Nepal memang selalu bikin saya jatuh hati terutama orang-orangnya.

Begitu mendekati puncak, melihat sepasang mata penuh dengan misteri, itulah Swayambunath. Sepasang mata itu adalah Buddha Eyes yang memandang ke semua arah mata angin. Ini menunjukkan bahwa Tuhan maha mengetahui ada di mana-mana. Di bawah mata, garis melingkar-lingkar seperti hidung, adalah angka ‘1’ (ek) dalam huruf Nepal, melambangkan persatuan segala makhluk. Di atasnya tumpukan 13 mahkota yang melambangkan 13 tahapan dalam spiritual.

Kota Kathmandu yang padat merayap

Setibanya di puncak, penuh sesak antara penduduk lokal dan turis, ditambah kami bertiga pula. Haha. Dari atas saya bisa melihat kota Kathmandu yang padat dengan permukiman rumah penduduk. Saya berkeliling, melihat penduduk yang sedang berdoa, menyalakan lilin, mengelilingi pedestal yang dipenuhi dengan praying wheels atau roda-roda doa.

prayer wheel

Ada juga yang sedang berkumpul menyanyikan lagu-lagu duduk di bawah beralaskan tikar. Ada pula yang memberikan sumbangan untuk pengecetan ulang patung Buddha Eyes yang juga masih menjadi icon dari negara ini. Saya melihat bahwa mereka merawat dengan baik stupa ini.

penduduk yang sedang bernyanyi semacam persekutuan kali yah 🙂

Bhaktapur

Bhaktapur lokasinya kurang lebih 30 menit dari Swayambunath atau sekitar 13km dari Kathmandu. Menuju tempat ini harus melewati jalan yang rusak dan berdebu, jadi harus pakai masker. Seperti yang saya infokan di bagian pertama, taxi di sini tidak ada yang menggunakan AC.

Bhaktapur merupakan kawasan yang merupakan bagian dari UNESCO World Heritage Sites di Nepal. Kawasan ini sangat besar jadi butuh waktu sehari untuk mengelilinginya sayangnya saya hanya beberapa jam di sini. Tiket masuk 1500 Rs / IDR 195.000. Tiket ini menurut kami terbilang mahal jika dibandingkan dengan Swayambunath yang hanya 200 Rs or IDR 26.000

thanks for the pic, mba @alfianapontoh

Namun setelah melihat kondisinya saya mengerti kenapa mereka memberlakukan tiket dengan harga yang tinggi. Bhaktapur adalah salah satu destinasi yang menjadi korban gempa yang cukup parah 2 tahun silam. Banyak bangunan yang runtuh dan rata dengan tanah. Saya pikir uang tiket masuk ini juga digunakan mereka untuk memperbaiki bangunan-bangunan yang rusak.

Begitu masuk ke tempat ini, terdapat sebuah halaman yang sangat besar atau dikenal sebagai alun-alun. Di sini banyak guide yang menawarkan jasa dan ada juag yang memaksa. Huff. Kawasan ini cukup besar, kamu bisa pergi sendiri berkeliling atau menyewa guide jika pengin tahu banget sejarahnya.

Oh iya, saya sempat dipepet anak perempuan kecil mungkin umurnya 6 tahun, bahasa Inggrisnya lancar. Saya diajak ngobrol, kemana pun saya pergi anak ini ikut dan kemudian saya dipalak. “Give me money, I want to buy books” Hahaha.

Saya sangat menikmati Bahktapur di mana saya bisa merasakan suasana Nepal begitu kental terasa di sini. Penduduk yang sedang bersantai, memperbaiki bangunan, penjual topi dan sayuran, dan masih banyak kegiatan yang bisa dilihat.

Bertepatan dengan acara keagamaan saya berkesempatan melihat semacam pawai dan juga berdekatan dengan Election Day jadi ada yang berkampanye. Seru banget!

Boudhanath

Boudhanath merupakan salah satu stupa kuno dan salah satu yang terbesar di dunia sekaligus terbesar di Asia Selatan. Masih di hari yang sama, di sini ada perayaan sehingga kami tidak perlu membayar tiket masuk. Tiket masuk sebenarnya 250 Rs. Ramainya kurang lebih sama seperti di Swayambunath. Kalau ke sini, para penduduk melakukan ritual kora atau mengelilingi stupa sesuai dengan arah jarum jam sembari merapalkan mantra-mantra.

prayer flags with mantra

Sama seperti Swayambunath, terdapat the Buddha Eyes dan diujungnya terikat bendera warna-warni atau dikenal dengan sebutan prayer flags. Bendera ini bertuliskan mantra-mantra doa. Umat Budha percaya bahwa setiap kali angin mengepakan lembaran bendera, maka doa yang terdapat padanya akan bisa memberkati alam semesta. Selain itu, stupa ini dikelilingi oleh toko souvenir, restoran dan juga penginapan. Di sini juga banyak restoran yang tingginya hampir sama dengan stupa, sehingga kamu bisa mendapatkan gambar yang lebih jelas.

Written by - - 517 Views

No Comment

Please Post Your Comments & Reviews

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Instagram

  • #majorthrowback Labuan Bajo, Flores, 2015
  • Sled descend at Yao Mountain! Swipe to watch the video 😄
.
Jadi ceritanya main ke Yao Mountain, the highest mountain in Guilin, pakai cable car gitu ke puncaknya. Nah turunnya bisa milih pake kereta gantung, dan setengah perjalanan pakai sled 🛷. Kalo pilih sled, harga tiketnya lebih mahal dibanding pakai kereta gantung. Ya masa udah jauh-jauh ke China nggak nyobain sih. Akhirnya beli tiket return pakai sled, yg mana perasaan kemudian makin kalut menjadi-jadi 🤣
.
Di puncak udaranya dingin banget lupa berapa derajat pokoknya double jaket 😂 udah udara dingin pakai kepikiran pula. Duh turun pakai sled gimana rasanya ya, pokoknya rada kalut lebay gimana gitu. Haha. Asli 😂 padahal dah liat video oma-oma pake sled, ya masa guweh kalah sih sama doi 🤦🏼‍♀️😂
.
Eh tapiii...begitu duduk ketakutan saya pun ilang gitu aja 😂 ternyata seru bangetttt.
.
Jadi cuma ada satu pedal, kalo didorong ke depan buat kecepatan, kalo ke belakang buat nge-rem. Sayangnya cuma bentar banget. Tiba-tiba dah sampe aja di bawah! Lol
  • Today’s adventure with these three bros 🌱🍃 .
📸 difotoin bang @jamz.roadtripper
  • Major throwback to 3 years ago #danaukelimutu
  • Guilin cityscape from the top of DieCai Hill 🇨🇳
  • I took this picture on my first day in Yangshuo. I visited Yu Long River that features the dramatic karst landscape, silky water, and the river is a great place for bamboo rafting. And fyi, the length of river is about 43 kilometers :)
  • Saya nggak pernah bosan berkunjung ke Tamblingan dan saya bisa berjam-jam ada di danau ini 🙈 Mulai dari menyusuri danau dgn jalur trekking pendek. Berjumpa dgn penduduk yang sedang memancing dan hasil dari tangkapan tersebut, mereka masak utk lauk sehari-hari dan juga utk dipelihara. Mereka juga suka ngobrol dan pastinya ramah banget 😊
.
Pengelola disini pun juga tidak memberi tarif biaya masuk ataupun parkir. Bahkan saya bermain ayunan tidak ada yg menarik tarif sepersen pun. Malahan seorang ibu berkata: “hati-hati ya, awas jatuh”
.
Namun, bukan berarti kita tidak perlu memberi apa-apa. Kita bisa bantu masyarakat pengelola dengan menyewa kano, membawa tamu untuk foto pre-wedding, trekking, atau bisa juga memberikan sebagian kecil dari milik kita di kotak dana punia milik mereka.
.
Yuk main ke Tamblingan!
  • It was a fun day at Tamblingan Lake
  • Kunjungan saya ke Danau Tamblingan untuk kesekian kalinya selalu disambut dengan sapaan lembut dari penduduk setempat
.
Bisa dibilang ramah dan murah senyum adalah ciri khas mereka. 💙 Ada yang mengajak ngobrol seperti sudah lama kenal atau hanya sekedar menyapa “darimana gek?” - Suasana pun menjadi sesejuk danau
.
Keramahan, kesederhanaan dan suasana yang tenang semua ada di danau ini #jaenidupdibali

Follow Me!