BALI

Berburu Sunrise di Desa Pinggan

Berburu Sunrise di Desa Pinggan

Ketika sang matahari mulai naik, pemandangan semakin indah. Matahari tampak bulat tanpa ketutupan awan sama sekali muncul diantara pegunungan dan lembah. Jika kamu datang lebih pagi, kamu bisa melihat kabut tipis menyelimuti areal pedesaan yang ada di bawah.

Akses menuju Desa Pinggan pun cukup mudah, saya berkendara dari Kuta melalui jalur Batu Bulan, Gianyar hanya sekitar 1,5 jam. Perjalanan menuju Desa Pinggan disambut dengan kabut tebal dan hawa yang dingin. Seru banget apalagi saya naik motor, jadi benar-benar menikmati perjalanan di subuh hari.
Setibanya dipertigaan jalan utama Kintamani, ada sebuah warung bertuliskan ‘Bubur Kacang Hijau, Angsle dan Ronde’. Tanpa pikir lama, saya dan kelima teman saya langsung berhenti untuk menghangatkan diri dari udara Kintamani yang dingin. Oh iya, jangan lupa mampir ke warung ini, sebelum kalian jalan menuju Desa Pinggan atau sebaliknya.

How to get there?

Dari jalan utama Kintamani, carilah Pura Puncak Penulisan itu adalah jalan menuju Desa Pinggan. Perjalanan ditempuh sekitar 15 menit dan cukup berkelok menuju Bukit Cinta. Jadi sebenarnya tidak ada penanda apapun. Hanya ada lahan kosong untuk parkir di kiri jalan dan jalan setapak di sebelah kanannya. Biasanya ada beberapa orang yang mendirikan tenda di sini.Β Di Bukit Cinta ini lumayan berdebu, menurut saya kalau untuk berkemah kurang nyaman.
sunrise squad

Tips:

  1. Pakai jaket yang tebal, sepatu, celana panjang atau pakaian yang sekiranya bisa menghatkan tubuh. Di sini udaranya lumayan dingin 16-18 derajat celcius.
  2. Jangan lupa bawa kamera beserta tripod dan filter demi hasil foto yang bagus
  3. Bawa jas hujan bagi pengendara motor, untuk sekedar jaga-jaga saja karena di Kintamani suka hujan kecil

Tidak ada biaya masuk alias gratis untuk menikmati pemandangan sunrise di Desa Pinggan. Selamat mengejar sunrise!

—-

Thank you for the featured image @jamz.roadtripper & @mylenseye

Written by - - 681 Views

5 Comments

  • Puspa S September 12, 2017 at 3:33 pm

    Nice katep! Pengen nyobain juga sunrisean disana.

    Reply
    • steffi September 13, 2017 at 2:27 am

      Iya kapus, nggak perlu capek2 buat hiking.

      Reply
  • Cindy September 24, 2017 at 1:58 am

    Kamu ahattt, pengen hahahahha

    Reply
  • niiapanpan October 13, 2017 at 8:50 am

    wow, bisa jadi pertimbangan buat weekend nih, bagus mba stef πŸ™‚

    Reply
    • steffi October 13, 2017 at 8:58 am

      Iya Son, nggak perlu capek2 hiking haha

      Reply

    Please Post Your Comments & Reviews

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    Instagram

    • #majorthrowback Labuan Bajo, Flores, 2015
    • Sled descend at Yao Mountain! Swipe to watch the video πŸ˜„
.
Jadi ceritanya main ke Yao Mountain, the highest mountain in Guilin, pakai cable car gitu ke puncaknya. Nah turunnya bisa milih pake kereta gantung, dan setengah perjalanan pakai sled πŸ›·. Kalo pilih sled, harga tiketnya lebih mahal dibanding pakai kereta gantung. Ya masa udah jauh-jauh ke China nggak nyobain sih. Akhirnya beli tiket return pakai sled, yg mana perasaan kemudian makin kalut menjadi-jadi 🀣
.
Di puncak udaranya dingin banget lupa berapa derajat pokoknya double jaket πŸ˜‚ udah udara dingin pakai kepikiran pula. Duh turun pakai sled gimana rasanya ya, pokoknya rada kalut lebay gimana gitu. Haha. Asli πŸ˜‚ padahal dah liat video oma-oma pake sled, ya masa guweh kalah sih sama doi πŸ€¦πŸΌβ€β™€οΈπŸ˜‚
.
Eh tapiii...begitu duduk ketakutan saya pun ilang gitu aja πŸ˜‚ ternyata seru bangetttt.
.
Jadi cuma ada satu pedal, kalo didorong ke depan buat kecepatan, kalo ke belakang buat nge-rem. Sayangnya cuma bentar banget. Tiba-tiba dah sampe aja di bawah! Lol
    • Today’s adventure with these three bros πŸŒ±πŸƒ .
πŸ“Έ difotoin bang @jamz.roadtripper
    • Major throwback to 3 years ago #danaukelimutu
    • Guilin cityscape from the top of DieCai Hill πŸ‡¨πŸ‡³
    • I took this picture on my first day in Yangshuo. I visited Yu Long River that features the dramatic karst landscape, silky water, and the river is a great place for bamboo rafting. And fyi, the length of river is about 43 kilometers :)
    • Saya nggak pernah bosan berkunjung ke Tamblingan dan saya bisa berjam-jam ada di danau ini πŸ™ˆ Mulai dari menyusuri danau dgn jalur trekking pendek. Berjumpa dgn penduduk yang sedang memancing dan hasil dari tangkapan tersebut, mereka masak utk lauk sehari-hari dan juga utk dipelihara. Mereka juga suka ngobrol dan pastinya ramah banget 😊
.
Pengelola disini pun juga tidak memberi tarif biaya masuk ataupun parkir. Bahkan saya bermain ayunan tidak ada yg menarik tarif sepersen pun. Malahan seorang ibu berkata: β€œhati-hati ya, awas jatuh”
.
Namun, bukan berarti kita tidak perlu memberi apa-apa. Kita bisa bantu masyarakat pengelola dengan menyewa kano, membawa tamu untuk foto pre-wedding, trekking, atau bisa juga memberikan sebagian kecil dari milik kita di kotak dana punia milik mereka.
.
Yuk main ke Tamblingan!
    • It was a fun day at Tamblingan Lake
    • Kunjungan saya ke Danau Tamblingan untuk kesekian kalinya selalu disambut dengan sapaan lembut dari penduduk setempat
.
Bisa dibilang ramah dan murah senyum adalah ciri khas mereka. πŸ’™ Ada yang mengajak ngobrol seperti sudah lama kenal atau hanya sekedar menyapa β€œdarimana gek?” - Suasana pun menjadi sesejuk danau
.
Keramahan, kesederhanaan dan suasana yang tenang semua ada di danau ini #jaenidupdibali

    Follow Me!