TORAJA

Hadiah Ulang Tahun: Jalan-jalan ke Tana Toraja

Hadiah Ulang Tahun: Jalan-jalan ke Tana Toraja

Satu setengah bulan setelah mami saya meninggal, sahabat papi saya, Om Markus, mengundang kami untuk hadir di pernikahan anaknya di Toraja yang nomer 2, Eden, teman masa kecil saya juga. Saya cukup excited ketika saya diajak ke Toraja dan bertepatan dengan ulang tahun saya November 2012. Sedih sekalian senang, ini adalah tahun pertama saya tidak mendapatkan ucapan dan doa dari mami saya. Mendadak mellow.

Tiba di Makassar untuk pertama kalinya

Perjalanan dimulai dari Bali, tepatnya jam 10 pagi dari Bandara Internasional Ngurah Rai dan tiba di Makassar siang hari. Begitu tiba di bandara, karena keluarga dari Om Markus, juga tiba di hari yang sama, kami berangkat menggunakan bis menuju Tana Toraja. Perjalanan menggunakan bis sekitar 8 jam dan tentunya tiba di Toraja sudah malam hari. Selama perjalanan saya disuguhkan dengan pemandangan yang cantik meski jalan cukup berkelok-kelok, saya sangat menikmati.

pemandangannya kurang lebih begini selama perjalanan menuju Toraja

Singkat cerita, saya tiba di Rantepao, Toraja Utara, dan berbincang-bincang dengan sahabat papi saya dan lainnya. Kebetulan Om Markus memiliki Yayasan rehabilitasi dan kebetulan Eden dan calon suaminya juga merupakan seorang dokter, kami pun tinggal di asrama untuk beberapa hari ke depan.

Saya ke beberapa tempat wisata yang lokasinya tidak jauh dari Rantepao sebelum meninggalkan Tana Toraja, yaitu Kete Kesu dan Londa. Tempat ini tentunya sangat terkenal, Kete Kesu adalah di mana kamu bisa melihat rumah adat tongkonan orang Sulawesi.

papi saya πŸ™‚

Tidak hanya rumah tongkonan tapi juga terdapat peti-peti mati yang sudah ratusan tahun, diletakkan di tanah, di dalam maupun di luar gua bahkan tengkorang sekalipun. Jadi jangan terkejut jika kalian berkunjung ke Kete Kesu. Hehe.Β Toraja memang terkenal dengan objek wisata kuburan, tengkorak dan peti-peti tapi worth to visit kok.

nah ini guanya

Setelah itu, saya berpindah ke lokasi lain yaitu Londa. Sudah pada tau kan? Gua-gua yang ada di Toraja digunakan untuk sebagai kuburan. Jadi tak heran, jika gua-gua yang ada di Toraja pasti ada kuburan, seperti yang terdapat di depan rumah om Markus, syukurlah saya baru menyadari di hari terakhir saya di Toraja. Hehe.

Londa adalah gua yang cukup tinggi dan besar, semua jenazah orang yang meninggal diletakkan dalam peti dan dimasukkan ke dalam gua Londa. Kamu juga bisa masuk ke dalam gua melihat secara dekat seperti yang saya lakukan bersama papi saya.

gua di Londa, sangat tinggi

Kalau tidak salah ingat kami membayar Rp 50.000 untuk masuk dalam gua ditemani oleh sang pemandu dengan bermodalkan lampu petromax. Kebayang kan suasananya kayak gimana? Hehehe. Saya melihat tengkorak yang berserakan, peti yang masih sangat baru, peti yang sudah rusak, dan masih banyak lagi.

suasanya di dalamnya
patung-patung mayat yang menyerupai wajah asli dari orang meninggal
peti-peti yang masih baru

Hebatnya ketika masuk gua saya tidak merasa pengap atau bau mayat, suasana di dalam tetap sejuk. Karena mami saya baru meninggal sekitar 1,5 bulan, melihat peti-peti yang baru ada di dalam gua saya teringat akan mami saya, sehingga saya tidak terlalu lama di dalam sana, begitu pula papi saya, beliau terlihat muram ketika masuk, saya tidak mau membuatnya semakin sedih sehingga kami memutuskan untuk segera keluar :’) Oh iya kamu juga akan menjumpai tengkorak sepasang kekasih yang bunuh diri karena tidak mendapat restu. Kisah ini cukup terkenal di Londa.

 

 

 

Written by - - 289 Views

No Comment

Please Post Your Comments & Reviews

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Instagram

  • #majorthrowback Labuan Bajo, Flores, 2015
  • Sled descend at Yao Mountain! Swipe to watch the video πŸ˜„
.
Jadi ceritanya main ke Yao Mountain, the highest mountain in Guilin, pakai cable car gitu ke puncaknya. Nah turunnya bisa milih pake kereta gantung, dan setengah perjalanan pakai sled πŸ›·. Kalo pilih sled, harga tiketnya lebih mahal dibanding pakai kereta gantung. Ya masa udah jauh-jauh ke China nggak nyobain sih. Akhirnya beli tiket return pakai sled, yg mana perasaan kemudian makin kalut menjadi-jadi 🀣
.
Di puncak udaranya dingin banget lupa berapa derajat pokoknya double jaket πŸ˜‚ udah udara dingin pakai kepikiran pula. Duh turun pakai sled gimana rasanya ya, pokoknya rada kalut lebay gimana gitu. Haha. Asli πŸ˜‚ padahal dah liat video oma-oma pake sled, ya masa guweh kalah sih sama doi πŸ€¦πŸΌβ€β™€οΈπŸ˜‚
.
Eh tapiii...begitu duduk ketakutan saya pun ilang gitu aja πŸ˜‚ ternyata seru bangetttt.
.
Jadi cuma ada satu pedal, kalo didorong ke depan buat kecepatan, kalo ke belakang buat nge-rem. Sayangnya cuma bentar banget. Tiba-tiba dah sampe aja di bawah! Lol
  • Today’s adventure with these three bros πŸŒ±πŸƒ .
πŸ“Έ difotoin bang @jamz.roadtripper
  • Major throwback to 3 years ago #danaukelimutu
  • Guilin cityscape from the top of DieCai Hill πŸ‡¨πŸ‡³
  • I took this picture on my first day in Yangshuo. I visited Yu Long River that features the dramatic karst landscape, silky water, and the river is a great place for bamboo rafting. And fyi, the length of river is about 43 kilometers :)
  • Saya nggak pernah bosan berkunjung ke Tamblingan dan saya bisa berjam-jam ada di danau ini πŸ™ˆ Mulai dari menyusuri danau dgn jalur trekking pendek. Berjumpa dgn penduduk yang sedang memancing dan hasil dari tangkapan tersebut, mereka masak utk lauk sehari-hari dan juga utk dipelihara. Mereka juga suka ngobrol dan pastinya ramah banget 😊
.
Pengelola disini pun juga tidak memberi tarif biaya masuk ataupun parkir. Bahkan saya bermain ayunan tidak ada yg menarik tarif sepersen pun. Malahan seorang ibu berkata: β€œhati-hati ya, awas jatuh”
.
Namun, bukan berarti kita tidak perlu memberi apa-apa. Kita bisa bantu masyarakat pengelola dengan menyewa kano, membawa tamu untuk foto pre-wedding, trekking, atau bisa juga memberikan sebagian kecil dari milik kita di kotak dana punia milik mereka.
.
Yuk main ke Tamblingan!
  • It was a fun day at Tamblingan Lake
  • Kunjungan saya ke Danau Tamblingan untuk kesekian kalinya selalu disambut dengan sapaan lembut dari penduduk setempat
.
Bisa dibilang ramah dan murah senyum adalah ciri khas mereka. πŸ’™ Ada yang mengajak ngobrol seperti sudah lama kenal atau hanya sekedar menyapa β€œdarimana gek?” - Suasana pun menjadi sesejuk danau
.
Keramahan, kesederhanaan dan suasana yang tenang semua ada di danau ini #jaenidupdibali

Follow Me!